Jumat, 29 Januari 2010

Hari Valetine Jadi Komoditas?

Hari Kasih Sayang selalu diasosiasikan dengan para pecinta yang saling bertukar-tukaran notisi-notisi dalam bentuk "Valentines". Simbol modern Valentine amtara lain termasuk sebuah kartu yang berbentuk hati dan gambar sebuah cupid bersayap. Mulai abad ke-19, tradisi penulisan notisi pernyataan cinta mengawali produksi kartu ucapan secara masal. Keterangan yaog didapat dari Wikipedia Indonesia menyebutkan, The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) memperkirakan bahwa di seluruh dunia sekitar satu miliyar kartu Valentine dikirimkan per tahun. Ini membuat Hari Kasih Sayang di kalangan kaum Nasrani merupakan hari raya terbesar kedua setelah Natal, di mana kartu-kartu ucapan dikirmkan. Asosiasi yang sama ini juga memperkirkan bahwa para wanitalah yang membeli kurang lebih 85% dari semua kartu valentine.

Di Amerika Serikat mulai pada paruh abad ke-20, tradisi bertukaran kartu diperluas dan termasuk pula pemberian segala macam hadiah, biasanya oleh pria kepada wanita. Hadiah-hadiahnya bisa berupa bunga mawar dan cokelat. Mulai tahun 1980-an, industri berlian mulai mempromosikan Hari Valentine sebagai sebuah kesempatan untuk memberikan hadiah perhiasan berkualitas.

Penjualan aneka bentuk kartu ucapan dan pernak-pernik berkaitan Valentine's Day juga merembet di negeri ini, dan peminatnya bisa mendapatkan barang-barang itu di plaza-plaza atau mal-mal di Jakarta dan Surabaya, pada bulan Februari. Selain itu, juga dimanfaatkan pengelola bisnis hiburan, dan diusung menjadi tema acara coffee shop di hotel-hotel berbintang, diskotik, karaoke, restoran cepat saji dan kebab malam. Berbagai kafe yang tersebar di kota ini tentu juga menyuguhkan acara bertema Hari Kasih Sayang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar