Karena Valentine bertentangan dengan aqidah dan norma akhlak Islam yang ada, seharusnya kaum Muslim membendungnya. Kemudian penangkal berikutnya adalah preventif dan kuratif yang perlu dicari di dalam Al-Qur'an atau Hadist Rasul. Disamping itu tentu saja harus ada ikhtiar manusia lainnya dengan berbagai kesenjangan sosial. Pergaulan bebas, perjudian, minum-minuman keras, pencurian, pemerkosaan, pelacuran dan bentuk-bentuk maksiat lainnya menurut istilah Al-Qur'an disebut "amal as syaitan" atau perbuatan amal syetan, langkah- langkah menahannya adalah dengan cara sebagai berikut :
Pertama, membina pribadi-pribadi Muslim menjadi insan-insan mukhlis, ikhlas dalam beragama. Manusia yang dari sejak menyatakan dirinya muslim sampai menyatakan Islamnya itu dalam perbuatan semata-mata karena didorong oleh keyakinan dan kebenaran Allah. Ia dari Islam yang dianutnya mengharapkan ridha Allah SWT. Manusia semacam ini akan memiliki ketangguhan mengatasi bujuk rayu syetan.
Kedua, manusia harus tetap berdiri di jalan yang lurus. Orang semacam ini juga tidak mudah terayu oleh godaan syetan sebab ia memiliki pendirian yang tetap, langkahnya pasti sebab ia mengerti pentunjuk (ramcu-rambu) dan tujuan jalan yang ditempuhnya.
Ketiga, menjadikan dan mecukupkan hanya Allah yang menjadi pimpinan. Orang yang menjadikan Allah menjadi pemimpin dan pimpinan perjalanan hidupnya akan selalu terbimbing. Pikirannya, perkataanmya dan perbuatannya akan sesuai dengan peraturan Allah. Hidup dengan mengikuti dan menaati perintah Allah, dijamin akan selamat sebab hidup dan liku-liku kehidupan ini ciptaan Allah SWT dan hanya Dia Yang Maha Tahu dalam peraturannya.
Penangkal lainnya bersifat ikhtiar manusiawi berupa filterisasi terhadap kebudayaan luar yang masuk. Penyakit ingin cepat meniru tanpa mengkaji baik buruknya ikut memungkinkan cepat menjalarnya segala yang datang dari luar. Juga ingin disebut hebat, bergengsi, tidak kampungan sebenarnya justru menunjukkan harga diri yang kurang. Harga diri ini masih perlu ditingkatkan seperti Allah membangkitkan harga diri Nabi Musa disaat dia merasa keder menghadapi jago-jagoan sihir Fira'un.
Diambil dari berbagai sumber.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar